Announcement:

OUTNOW..EJM Zine 2nd Edition Printed Published Date: September 04, 2015

Saturday, 23 July 2016

Wawancara Dengan Taufiq Rahman

Biasanya, Berbicara jurnalisme musik adalah soal membandingkan mana yang lebih baik atau mana yang lebih buruk. Dengan didukung oleh banyaknya pertimbangan kami dalam mencari sosok ideal, Dimana kami sangat membutuhkan tulisan yang seimbang, tidak terlalu memuji pun tak melulu mencela di sisi lain. Kemudian cara bertutur ringan serta kemampuan mengikat pembaca untuk mengupas lapis-lapis realitas dengan mendalam juga menuntun tapi tak menggurui. Figur berikut ini sebenarnya memang telah menenggelamkan hidupnya untuk musik sejak belia. Kecintaannya dengan musik turut pula mengantarkan pada pengalaman yang sarat akan cuplikan-cuplikan perkembangan dan sejarah musik. Sudah sejak lama kami memantau sepak terjangnya di Jakartabeat.Net sebagai salah satu founder sekaligus juga menjadi redaktur politik harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, serta menuntaskan pendidikan pasca sarjana di Departemen Politik, Northern Illinois University. Dengan kapasitas itulah ia berkesempatan untuk menjawab wawancara yang akan segera kalian simak dibawah ini..You’ve read one, you’ve read them all. Selamat membaca!!!
EJMZINE : Halo… Selamat atas beredarnya cetakan kedua buku “Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer”. Ngomong-ngomong, Bisa cerita sedikit awal-awal ketertarikan dengan jurnalisme musik ?
Taufiq Rahman : Sebenarnya saya tidak tertarik menggunakan istilah jurnalisme musik karena apa yang saya tulis di buku Lokasi lebih bercerita dan dengan mengabaikan banyak fakta-fakta (yang menjadi tulang punggung jurnalisme). Jadi saya lebih menulis tentang apa yang saya alami dan saya rasakan dari mendengarkan musik, berjalan-jalan mencari musik di banyak negara dan mengunjungi tempat-tempat ziarah penting rock n roll. Saya lebih suka dengan istilah "Music Writer" saja.

EJMZINE : Anda menjalankan label juga menjadi redaktur di The Jakarta Post, Apa sih hubungannya bisnis musik dengan jurnalistik?
Taufiq Rahman :
The Jakarta Post adalah institusi yang established jika tidak bisa dikatakan tua dan serius, Dan meskipun saya memegang isu politik saya berusaha memberi aura kemudaan melalui tulisan musik dan isu budaya anak muda. Secara bisnis tidak ada hubungan, Namun banyak dari relasi musik saya sekarang adalah mereka yang dulu pernah saya tulis untuk The Jakarta Post. Tagline label Elevation Record "Little Label That Could" adalah judul artikel yang tahun 2006 saya tulis tentang Aksara Records (Almarhum). Kini tentu saja saya tidak boleh menulis tentang musik jika itu berhubungan dengan band-band yang ada di Elevation Record tapi tetap menulis isu musik yang lain. Hubungan yang lain adalah ya pendapatan saya di The Jakarta Post membantu membiayai Elevation Record, Terutama initial capital.

EJMZINE : Saat ini, anda mulai membuka Pre-Order kumpulan tulisan Herry Sutresna. Ide darimana untuk menjadikannya menjadi sebuah buku?
Taufiq Rahman : Saya sudah banyak bekerjasama dengan Ucok terutama dalam perilisan ulang musik-musik Homicide dan juga kebetulan teman baik dengannya. Sejak di Jakartabeat saya juga tahu bahwa Ucok adalah penulis yang sangat baik dan bermutu. Tulisan dia banyak tersebar di majalah mainstream, independent publication maupun zine. Saya berkeinginan untuk membukukannya supaya ada dokumentasi fisik. Ucok sering cerita juga kalau banyak teman dia dari tempat jauh datang dengan membawa USB dan meminta copy tulisan dia. Sejak saat itu saya berfikir kenapa tidak dibukukan saja. Di Elevation Records, saya ingin menumbuhkan kecintaan terhadap rilisan fisik di tengah serangan digitalisme. Di Elevation Books saya juga ingin menumbuhkan kecintaan kepada buku dalam bentuk fisik di tengah serangan tulisan-tulisan online dan sosial media.

EJMZINE : Penilaian personalmu untuk sosok Herry Sutresna?
Taufiq Rahman : Saya nihilis, dan sebagai akibatnya malas untuk melakukan apapun untuk menciptakan perubahan. Ucok nihilis tapi dia mau berjuang dan bekerja keras untuk membuat dunia menjadi lebih baik sesuai dengan pandangan politik dia. Saya salut dengan prinsipnya itu.

EJMZINE : Bagaimana sikap dan pandangan anda dalam menghadapi degradasi minat baca di kalangan anak muda?
Taufiq Rahman :
Soal minat baca, Sebenarnya ini tren umum karena di Amerika Serikat misalnya juga mulai banyak orang yang tidak membaca buku karena distraction televisi dan sosial media. Jadi membaca buku pada akhirnya adalah privilege dan bukan lagi keharusan. Ini sih masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan gerakan literasi pemerintah atau gerakan sosial media. Membaca adalah sesuatu yang organik yang tumbuh bersama di keluarga dan di sistem industri perbukuan. Kalau scene industri buku masih menerbitkan buku-buku tentang kejombloan dan cinta-cintaan ya anak-anak yang pinter jadi malas membaca. Nah disini kemudian peran keluarga penting untuk membudayakan membaca. Ayah yang membaca akan memberikan bacaan yang baik dan jika industri perbukuan lokal tidak menyediakan buku yang baik dia akan mencari dark khasanah budaya dunia dan hasilnya anak akan terbiasa dengan mencari dari Kafka, Saramago atau David Foster Wallace.

EJMZINE : Punya argumen rasional selain mengandalkan perasaan tentang pilihan hidupmu?
Taufiq Rahman : Kecintaan kepada musik saya sudah tidak rasional dan melakukan apa yang saya lakukan sekarang membuatnya menjadi lebih tidak rasional--memutar uang untuk menjalankan dua unit usaha dengan reward finansial yang kecil. Tapi itu yang membuat hidup saya lebih punya arti--tadi malam misalnya ada test press dari pressing plant di Cleveland untuk proyek vinyl Bandempo dan memutarnya untuk pertama kali. Jika anda tidak lagi percaya apapun, itu adalah kebahagian sekuler yang khusyuk. Namun selalu ada surprise yang menyenangkan dalam melakukan ini. Saya tidak punya definisi apapun tentang hidup bahwa saya adalah penulis, jurnalis, dosen, pedagang dan saya rasa saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sendiri. Saya adalah bagian umat manusia dan musik membantu mendefinisikan peran saya.

EJMZINE : Sebuah hal lazim jika musisi akan terus mengolah, melakukan promosi, kemudian mendistribusikan  demi menjaga pasar atas karyanya. Menurut pandanganmu, Setuju atau tidak jika musik juga bisa disebut sebagai bentuk lain kapitalis?
Taufiq Rahman : Saya lebih suka menyebutnya sebagai artisanal craft. Bahwa semua proses produksi yang kita jalankan tidak dijalankan untuk kepentingan mendapatkan nilai lebih (nilai lebih itu yang mendefinisikan kapitalisme). Semua hal yang kita lakukan di Elevation adalah untuk mendapatkan keuntungan untuk membiayai proyek selanjutnya. Omong kosong kalau kita tidak ingin dapat profit, tapi profit itu harus untuk mengembangkan proyek musik atau penulisan yang lain. Sepanjang tidak rugi  tetap akan jalan. Atau rugi sedikit  tidak masalah. 

EJMZINE : Urusan selera musik memang sangat personal dan selera juga bisa dikelola secara masif, Apakah selera perlu diukur?
Taufiq Rahman : Saya terus terang tidak terlalu memperdebatkan soal selera lagi. Dulu di Jakartabeat saya sering menciptakan debat tidak perlu soal selera, tentang hipster dan bla bla bla. Saya kira itu sudah selesai. Semua orang punya preferensi dan alasan untuk menyukai sesuatu--meskipun suka juga tergoda untuk men-judge selera orang lain. Yang kini saya lakukan adalah kalau ada yang saya nilai bagus saya punya kewajiban untuk membuat orang lain tahu, mereka suka atau tidak itu urusan lain. 

EJMZINE : Dalam menulis jurnalisme musik, Apakah anda punya garis ideal sebagai kontrol menulis musik?
Taufiq Rahman : Saya terus terang tidak tahu definisi jurnalisme musik karena penulis-penulis musik besar yang saya tahu Lester Bangs, John Harris atau Dorian Lynskey juga tidak terlalu mempersoalkan definisi music journalism 5W+1H. Mereka hanya menulis tentang apa yang mereka rasakan tentang musik atau memberi konteks bagi musik yang mereka dengarkan atau dengan istilah yang sering dipakai "dancing to architecture." Idealnya adalah bagaimana pemahaman tentang musik itu adalah pemahaman tentang manusia, seperti yang dilakukan oleh Jonathan Lethem di seri buku 33 1/3 tentang album Talking Heads "Fear of Music".

EJMZINE : Lewat jurnalisme musik, Seberapa jauh kadar realitas karya musik ditampilkan?
Taufiq Rahman : Tidak ada realitas yang tunggal di dalam dan tentang musik dan sebagian besar music journalism sesungguhnya bukan tentang musik itu sendiri tapi tentang mitos-mitos di sekitar musik itu sendiri. Itu yang membuat saya berhenti membaca majalah-majalah musik mainstream, karena pekerjaan mereka justru myth-making dan mengaburkan musik itu sendiri. Saya lebih tertarik membaca dan menulis tentang suasana sosial yang membuat musik itu lahir.

EJMZINE : Apa kajian musik juga mempelajari estetika?
Taufiq Rahman : Tidak harus karena hanya akan membuat kita sibuk dengan ukuran-ukuran keindahan tentang skala dan notasi. Musik lebih dari itu semua.

EJMZINE : Apakah anda percaya pada perjuangan identitas atau perjuangan kelas?
Taufiq Rahman : Saya sudah tidak percaya dengan apapun. Masalah sosial terlalu kompleks untuk direduksi hanya dengan perjuangan kelas atau identitas sosial, apakah teroris dan pembunuh menjadi jahat karena miskin atau agama? Tidak ada jawaban yang pasti. Olivier Roy dan Giles Keppel, dua intelektual terkemuka Prancis berkelahi karena dua perbedaan di atas dan tidak ada yang menang. Individu atau sistem, tidak jelas juga. Jadi saya agnostik saja.

EJMZINE : Apa yang ada dikepalamu mengenai sosok Robert Christgau?
Taufiq Rahman : He is an a**hole, fasis dalam baju kritik musik.

EJMZINE : Di manakah posisi Anda sekarang, dalam percaturan jurnalisme musik Indonesia?
Taufiq Rahman : Saya tidak cukup penting untuk punya posisi di manapun. Saya hanya menjalankan peran kecil saja. Besides, is there such a thing as music journalism di Indonesia? I doubt it.

EJMZINE : Apakah Anda percaya adanya dominasi dan hegemoni sebuah individu/komunitas tertentu dalam jurnalisme musik?
Taufiq Rahman : Lebih tepat dominasi modal.

EJMZINE : Kami punya kesimpulan jika kita terlalu sering merayakan orang-orang medioker yang terlanjur terkenal. Seolah-olah, mereka yang terkenal itu, otomatis lucu, otomatis seniman, otomatis penulis atau otomatis penyanyi karena mereka adalah sosialita yang dikenal banyak orang. Formulasi ini berlaku pada semua hal, baik buku, film, musik bahkan akal sehat anda sekalian. Apa tanggapanmu mengenai fenomena tersebut?
Taufiq Rahman : Saya tahu siapa yang Anda bayangkan. Terus terang saya tidak peduli dengan mereka. Kalau kita masih teriak-teriak betapa tidak bermutu mereka dan kita merasa perlu menjelek-jelekkan berarti kita masih bekerja di  dalam sistem yang ada sekarang. Atau dalam bahasa awam, kita masih satu level dengan mereka. Itu hanya membuang energi. Cara melawannya? Ciptakan ruang-ruang budaya anda sendiri, bangun kesadaran dengan orang-orang terdekat Anda, beri bacaan yang baik, tonton film yang baik, pilih musik yang layak. Daripada kita teriak-teriak tentang orang-orang yang tidak kompeten di KPI, ada cara yang lebih mudah, matikan TV di rumah dan baca buku. Itu yang saya ajarkan ke gadis kecil saya di rumah.

EJMZINE : Apa yang sebetulnya kita perlukan untuk membuat jurnalisme musik di Indonesia semakin bermutu dan menemukan jati dirinya?
Taufiq Rahman : Hanya satu cara, baca buku yang baik. Kita hanya bisa menjadi penulis yang baik jika hanya kita menjadi pembaca yang baik. 

EJMZINE : Bagaimana idealnya berkarya dalam jurnalisme musik? Apa harus menggugah siapapun yang mendengar dan membaca?
Taufiq Rahman : Kita perlu suara-suara unik yang memiliki jati diri yang kuat, jangan menjadi bagian dari kerumunan. Identitas yang kuat akan berani berkata jujur tentang karya seni yang hanya lahir jika kita sudah mendengar, membaca dan melihat secara cukup. Anda hanya bisa berkomentar film itu bagus atau jelek kalau Anda tidak hanya menonton film Hollywood atau film Truffaut atau Woody Allen saja, lihat juga film Swedia, Yugoslavia atau Iran. Musik juga begitu, jangan dengar metal, punk atau Indie, dengar klasik, gamelan, seriosa. Anda bisa mendengar misalnya sumbangan gamelan ke musik Debussy atau sumbangan gamelan ke musik Talking Heads. Lihat juga musik dari Iran, Mesir, Zambia atau Peru. Baru anda bisa menjadi penulis yang syah.

EJMZINE : Seperti yang anda ketahui bahwa setiap penulis punya otoritas atas apa yang ia tulis. Dalam Jurnalisme musik, Hal-hal apa saja yang sangat sangat dibutuhkan pembaca selain mengurai skill musisi dan perjalanan karir musisi?
Taufiq Rahman : Hal yang paling membosankan adalah membaca uraian soal skil dan perjalanan karir, kecuali anda membaca Led Zeppelin atau Miles Davis, yang menarik buat saya adalah suasana sosial politik seperti apa yang membuat Led Zeppelin atau Miles Davis bisa menciptakan karya-karya jenius itu, dan penulis seperti John Harris atau Dorian Lynskey berhasil melakukannya. John Haris berhasil dengan brilian menceritakan bangkitnya Partai Buruh (New Labor) yang dipimpin Tony Blair dengan gerakan Cool Britannia di Brit Pop di era Blur dan Oasis. penulis lain yang berhasil adalah Simon Reynolds tentang punk dan post-punk.

EJMZINE : Mengapa relasi musik selalu lekat dengan politik?
Taufiq Rahman : Lebih dari visual art atau film bahkan, musik adalah bentuk kesenian yang paling ekspresif dan paling primal jika bukan primitif, jadi wajar saja jika musik paling banyak digunakan sebagai panggilang perlawanan, sekaligus sebagai alat penindasan (baik oleh rezim politik maupun rezim ekonomi kapitalis).

EJMZINE : Kenapa musik menjadi semacam kontrol ekspresif atas situasi politik, Alasannya?
Taufiq Rahman : Terus terang agak susah untuk bicara musik sebagai alat kontrol politik di era sekarang, karena dunia sudah sangat liberal. lebih tepat jika kita melihat musik sebagai alat kontrol subliminal di mana musik diciptakan hanya sebagai sarana konsumsi itu sendiri tanpa ada potensi penguatan seperti musik-musik Bob Dylan, Bruce Springsteen atau M.I.A. atau Homicide. Musik-musik yang hanya untuk dikonsumsi ini yang membuat musik direduksi sebagai komoditas atau direduksi lagi menjadi background noise di mall-mall untuk menemani belanja, musik musik Taylor Swift atau Celine Dion. Sia-sia dan kasihan  kalau musik bernasib seperti itu.

EJMZINE : Bagaimana cara pandang musik ke politik?
Taufiq Rahman : Musik, first and foremost, lebih punya fungsi membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah dan layak dijalani dan jika kemudian musik bisa memiliki peran dalam menciptakan perubahan itu adalah bonus yang luar biasa. Saya curiga kenapa Amerika sekarang bisa memunculkan orang seperti Trump karena scene musik secara umum sudah steril dari musik baik. TRump tidak akan muncul besar di politik di era grunge apalagi di era summer of love tahun 1960-an.

EJMZINE : Lalu, Sejauhmana musik mampu membangkitkan kesadaran sosial-politik untuk public?
Taufiq Rahman : Susah juga kalau musik menjadi sarang menciptakan kesadaran politik karena tidak pernah juga ada revolusi karena orang mendengar musik. Atau bahkan belakangan kita tahu bahwa orang yang revolusioner juga selera musiknya juga payah. Hitler juga menjadi fasis bukan karena mendengar Wagner dan sebaliknya mendengarkan Refused jika tidak menjadikan anda seorang yang radikal. Fungsi musik adalah memberi jalan kepada teks teks yang sebelumnya anda tidak tahu dan kemudian anda cari tahu dan mendapat pencerahan. Saya tidak tahu apakah saya membaca The Stranger Albert Camus karena mendengar lagu "Killing An Arab" The Cure atau sebaliknya. Either way saya kemudian tahu bahwa The Cure adalah band bagus dan Albert Camus adalah salah satu penulis terbaik dunia.

EJMZINE : Pandanganmu tentang jurnalisme musik di era post-network (Baca:digital)?
Taufiq Rahman : Rolling Stone US sudah memecat penulis-penulis mereka, Spin sudah tutup, Pitchfork sudah diakuisisi oleh Conde Nast, jadi yang saya lihat jurnalisme musik, sama seperti jurnalisme secara umum sudah terancam jika bukan menuju ajalnya. Tapi di satu sisi, kualitas buku-buku musik makin gila bagusnya, coba cek seri 33 1/3 sekali lagi dan sengaja dengan Elevation Books saya mencoba menuju ke arah yang sama. Bahwa tulisan bagus soal musik tidak lagi ada di majalah atau blog online yang anda baca, tapi dari buku-buku yang ditulis dan dipersiapkan serius. Kalau hanya mau tahu soal gosip artis, baca saja Detik.

EJMZINE : Harapan dan obsesi terbesarmu bersama Elevation Record?
Taufiq Rahman : Saya ingin jadi Richie Finestra di film seri HBO "Vinyl" (ha ha ha just kidding). Harapan saya dengan Elevation Records sederhana, saya bisa merayakan ulang tahun label ini ke 20, tapi masih dalam kondisi sama seperti sekarang. Home industri yang hanya dikelola oleh satu orang.

EJMZINE : Kita sampai di penghujung wawancara, Terima kasih telah meluangkan waktu menjawab wawancara ini, Silahkan meninggalkan pesan terakhir untuk kami dan pembaca.
Taufiq Rahman : Terima kasih atas kesempatan mendapat wawancara dan memberi tempat kepada suara-suara dari pojokan pojokan yang jarang terdengar.
Share:

East Jakarta Media

Eastjakarta-media adalah majalah online [webzine] dan cetak yang berdomisili di Jakarta Timur berdiri pada tanggal 01 Agustus 2012 yang memberikan informasi dan mempromosikan mencakup berita terbaru, ulasan dan wawancara dari band Metal dan label rekaman dari seluruh dunia.

0 comments :

Post a Comment

East Jakarta since 2012.

Twitter

Facebook

C/o Adjie Setiawan Penggilingan, 13940 Jakarta Timur, Indonesia 082227527797|51C27912 ejmzine@gmail.com

Made by East Jakarta Media

Copyright @2015 East Jakarta Media.